'Irreplaceable' : Ujian Personal Brand Ahok


Personal Brand Ahok sedang masuk dalam ujian berat. Mampu bertahankah Ahok? Lulus tidaknya sebuah brand menggambarkan tingkat kecemerlangannya.

Brand yang cemerlang memang melalui sebuah tempaan. Tetapi biasanya ujian datang dari faktor eksternal yang uncontrollable. Ujian jangan datang dari pancingan dari apa yang kita kerjakan sendiri. Jangan sampai kita sendiri yang "BREAK" sebuah brand yang telah kita bangun selama ini. Bagaimanapun, daya juang crowd masyarakat pelindungnya yaitu para Brand Guardian Ahok ada batasnya.

Fenomena Ahok menyadarkan kita bahwa 'keunikan' sebagai syarat menjadi brand cemerlang jangan diartikan sebagai unik yang 'nyleneh', keluar dari koridor nilai-nilai yang diyakini banyak orang. Brand Guardian manapun juga akan berat melindungi apabila sebuah brand sudah masuk kategori asosiasi negatif.

Kita harus 'Stay positive'. Seperti yang telah pernah saya sampaikan langsung kepada Pak Ahok di acara "Pencuri Perhatian" Mata Najwa, ada banyak cara positif untuk menyampaikan sebuah opini. Bergaya ceplas-ceplos itu boleh, tetapi tetap berjalan dalam koridor nilai masyarakat.

Untuk bisa mendapatkan posisi "Irreplaceable" (tidak tergantikan), sebuah personal brand harus bisa menangkap feedback dan menggunakannya sebagai acuan untuk modifikasi dan 'finetune' kesehariannya. Brand yang tidak tergantikan di hati masyarakat adalah brand yang mau 'mendengarkan', bukan hanya 'didengarkan'.

Personal Brand: Miskonsepsi

Jika ada yang mengatakan bahwa 'Saya adalah saya, terserah orang lain mau bilang apa' - itu berarti masuk ke dalam barisan orang-orang yang merugi. Dalam era hiperkompetitif seperti sekarang ini, bukan hanya produk atau jasa yang dipertandingkan, tetapi citra diri juga termasuk yang harus dikelola dengan sebaik-baiknya.

Dimana-mana sekarang sedang hangat dibahas tentang personal branding. Bukan hanya di saat pemilihan kepala daerah dan pemilihan presiden saja, tetapi sudah masuk ke dalam pembahasan sehari-hari di kantor, di kampus, di arisan, dan di tiap-tiap sudut Cafe.

Ini adalah perkembangan yang menggembirakan. Di tahun 2011 lalu, saat saya menggelar workshop tentang personal branding: Membangun citra diri yang cemerlang, mencari peserta masih tergolong berat.

Beberapa perusahaan bahkan melarang personnelnya untuk ikut workshop yang diselenggarakan pada hari kerja tersebut. Beberapa yang tidak melarang, tetap tidak mendukung karena karyawan harus cuti dan membayar biaya workshop sendiri.

Alasannya berkisar seputar personal brand itu hanya berguna bagi individu saja, jadi kantor atau perusahaan tidak harus memberikan dukungan karena tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan mereka. Bahkan, lebih ekstrimnya, ada yang menyampaikan bahwa kalau karyawannya terkenal, maka memperbesar kemungkinan 'dibajak' perusahaan lain.

Padahal, perusahaan butuh karyawan-karyawan cemerlang untuk membawa nama perusahaannya ke tingkat yang lebih tinggi. Setiap karyawan adalah representative dari perusahaan. Dimanapun berada, ia akan menjadi cerminan citra dari perusahaan itu sendiri. Menyadari hal ini, seharusnya divisi Human Resources Management bahkan proaktif memberikan pelatihan personal branding, bukan sebaliknya, menghalangi karyawannya.

Berbagai Miskonsepsi Tentang Personal Branding

Personal branding bukan hanya menjadikan seseorang untuk menjadi terkenal dan diminati secara permukaan. Kegiatan branding bukanlah terfokus pada kegiatan beriklan, mengkomunikasikan diri melalui website atau media-media sosial. Branding lebih dari itu semua.

Personal Branding adalah rangkaian kegiatan keseharian seseorang dimana akan membentuk sebuah impresi dan ini yang akan dikenang dan membekas di benak orang-orang di sekitarnya. Pertanyaannya: Impresi seperti apakah yang Anda ingin bangun dan membekas di benak mereka? Jangan-jangan Anda sendiri belum punya road map-nya.

Seringkali orang tidak menyadari bahwa 'Branding is a process'. Proses itu yang harus dijaga. Branding itu bukan kegiatan beriklan, tetapi adalah action. Kegiatan sehari-hari itulah yang bisa "MAKE' or "BREAK' sebuah brand yang bernama ANDA SENDIRI!

Klarifikasi Miskonsepsi

Pengalaman berinteraksi dalam berbagai Workshop Branding selama bertahun-tahun membuat saya tergerak untuk menuliskannya dalam buku berjudul PERSONAL BRANDING: Membangun Citra Diri yang Cemerlang. Salah satu tujuan meluncurkan buku adalah untuk mengklarifikasi berbagai miskonsepsi tentang personal branding yang masih berkembang di masyarakat. Bahwa personal branding itu bukan kegiatan 'pencitraan' yang telah dikonotasikan negatif yaitu memberikan impresi semu dan bukan diri sendiri.

Branding itu proses mencari kekuatan diri yang bisa ditawarkan kepada audience-nya, dan itu merupakan sisi autentik dan genuine yang terpancar dari diri seseorang. Bukan pencitraan semu belaka.

Hal lain yang diklarifikasi adalah anggapan bahwa personal brand itu hanya dibutuhkan oleh artis, tokoh masyarakat atau yang ingin menduduki puncak posisi di pekerjaan.

Personal brand dibutuhkan oleh siapa saja, tanpa terkecuali. Seorang ibu rumah tangga yang hadir dalam komunitas arisan saja tetap perlu selalu alert terhadap feedback orang-orang di sekitarnya untuk menjadikan personal brand-nya cemerlang.

Seseorang yang cemerlang itu selalu ditunggu kehadirannya. "Nggak Ada Loe Nggak Rame" adalah ungkapan yang cocok menggambarkan sosok-sosok yang "Irreplaceable", brand-brand personal yang tidak tergantikan. Pak Ahok, jadikan diri Anda 'Irreplaceable'. Yang ada di benak stakeholders Anda kira-kira begini bunyinya:

"Kalau bukan Loe Gubernurnya Nggak Oke".




No Comment


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>