<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Etnomark</title>
	<atom:link href="http://etnomark.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://etnomark.com</link>
	<description>Brand Consultant</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 May 2012 06:50:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>Archiles</title>
		<link>http://etnomark.com/archiles/</link>
		<comments>http://etnomark.com/archiles/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 04:32:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnomark</dc:creator>
				<category><![CDATA[Clients]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnomark.com/?p=1892</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnomark.com/archiles/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Android Inside! Belajar dari Pertemanan Samsung</title>
		<link>http://etnomark.com/android-inside-belajar-dari-pertemanan-samsung/</link>
		<comments>http://etnomark.com/android-inside-belajar-dari-pertemanan-samsung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 01:58:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnomark</dc:creator>
				<category><![CDATA[Popular Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnomark.com/?p=1871</guid>
		<description><![CDATA[Jika tahun baru selalu dikaitkan dengan resolusi janji pada diri sendiri yang berdampak pada personal branding, berapa banyak dari Anda yang menyempatkan diri memikirkan resolusi janji brand perusahaan? &#160; Jangan mengatakan bahwa itu tidak perlu lagi, karena business plan sudah selesai disusun. Marketing plan sudah siap diperbanyak untuk dilaksanakan. Ada yang masih perlu direnungkan lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika tahun baru selalu dikaitkan dengan resolusi janji pada diri sendiri yang berdampak pada personal branding, berapa banyak dari Anda yang menyempatkan diri memikirkan resolusi janji brand perusahaan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jangan mengatakan bahwa itu tidak perlu lagi, karena business plan sudah selesai disusun. Marketing plan sudah siap diperbanyak untuk dilaksanakan. Ada yang masih perlu direnungkan lagi yang mungkin belum masuk dalam dokumen resmi perusahaan. Resolusi brand terhadap para partnernya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Renungkan kembali, bukankah pencapaian brand di mata konsumen merupakan sebagian sumbangan dari kerja para partner perusahaan? Seperti apa persepsi mereka terhadap partnership yang sedang terjalin?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Para pemilik brand masih berpikir satu dimensi melihat persaingan. Bahwa brand motor bersaing melawan motor lain. Bahwa brand tissue berjuang melawan tissue merek lain. Bahwa brand oli bersaing dengan oli merek lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dunia bisnis yang semakin kompleks menuntut perusahaan untuk berpikir menembus batas lingkup interaksi perusahaan dengan konsumen. Customer bukan lagi satu-satu nya stakeholder penting. Dalam pertandingan lari marathon, partner bisnis yang ikut bersama membesarkan brand, termasuk kunci sukses keberhasilan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sudah terbukti, bahwa mobile phone tidak lagi bersaing dengan mobile phone lainnya. Dalam persaingan bisnis ini, termasuk di dalamnya adalah persaingan Operating System (OS) nya. Pertanyaannya tidak lagi sebatas bagaimana posisi Samsung vs iPhone? Tetapi juga bagaimana situasi penerimaan konsumen terhadap OS Android vs iOS?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kabar terakhir dari Nokia, brand yang posisinya di pasar semakin terdesak, mereka sudah menggandeng partner nya yaitu Microsoft dengan OS Windows Phone 7.5 (Mango). Apakah Nokia akan bangkit kembali? Terlalu dini untuk mengatakan bangkit. Tetapi, usaha Nokia kearah sana dengan membina pertemanan dengan Microsoft harus dihargai. Masih butuh waktu untuk membuktikan apakah partnership baru ini benar-benar bisa memberikan tawaran yang brilliant bagi konsumennya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Evaluasi Derajat Trust dan Respect</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika setiap periode kita meluangkan waktu dan biaya untuk riset persepsi konsumen terhadap brand, mengapa tidak memperluas pemahaman persepsi para partner bisnis, terhadap kita? Pernahkah berpikir untuk mengukur, derajat trust dan respect yang selama ini kita proyeksikan dalam sikap dan keseharian bermitra?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yang sering terjadi tanpa disadari, salah satu brand merasa peranannya lebih dominan sehingga memandang remeh partner lainnya. Dalam keseharian, salah satu brand merasa dibutuhkan, sehingga semua aturan dibuat untuk kepentingan sepihak saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah harus menunggu pecah pertemanan terlebih dahulu baru dievaluasi apa sebabnya? Dalam kasus mundurnya Priyanto sebagai wakil gubernur DKI Jakarta, publik tentu mempertanyakan banyak hal. Bagi Fauzi Bowo, yaitu brand yang ditinggalkan, review ulang persepsi partnership sudah tidak berguna lagi setelah keputusan mundur Priyanto dipublikasikan. Damage has been done.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam retaknya partnership, selalu ada imbas untuk image kedua brand. Sebagian orang menyalahkan Priyanto yang disebut tidak commit kepada partnernya, bahkan tidak punya loyalitas kepada kepada masyarakat yang memilihnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tetapi bagaimana dengan image Fauzi Bowo sendiri? Tentu agak sulit menghindar dari kenyataan untuk dipersepsikan sebagai leader yang ‘one man show’ dan tidak mau sharing panggung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di jaman yang semakin hiperkompetitif seperti sekarang ini, perusahaan perlu lebih jeli dalam memilih brand partner untuk bisa memberikan tawaran yang lebih kompetitif untuk konsumennya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Samsung sudah membuktikan kepiawaiannya dengan menggandeng OS Android. Bagi konsumen, ‘Android Inside’ menjadi salah satu trigger dalam pemilihan terhadap Samsung smart phone.  Dalam hal ini, ilmu matematika sederhana tidak bisa lagi digunakan.  Sebab, penggabungan dua brand yang berhasil, 1 + 1 bukan sama dengan 2 lagi, melainkan menjadi lebih dari 10.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salah memilih partner dalam bisnis, yang terjadi bisa sebaliknya, 1+1 malah menjadi 1.5 atau, bahkan lebih parah lagi, menggerogoti image brand sendiri,  sehingga 1+1 justru lebih rendah dari 1.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah pertemanan Samsung dengan Google OS Android akan berlangsung terus?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemerintah Korea memberikan tekanan bagi perusahaan besar negaranya yaitu Samsung dan LG untuk tidak bergantung kepada OS Android, dan menghimbau untuk membuat OS nya sendiri. Dalam persaingan bisnis, semua hal memang mungkin terjadi. Siapa yang berani garansi bahwa Google tidak sedang mempersiapkan hardwarenya sendiri dan ikut dalam kancah persaingan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika sampai sekarang Android Inside merupakan kunci keberhasilan Samsung di dunia mobile phone, maka sebaiknya tetap dipertahankan bahkan diperkuat. Google akan berpikir dua kali untuk tampil sendiri, pada saat pertemanan dengan Samsung tersebut merupakan pertemanan yang honest, trusted, dan menunjukkan komitmen jangka panjang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sekali lagi, bahan pertemanan adalah trust dan respect, yang kadarnya tidak boleh dikurangi. Jangan berasumsi bahwa dalam perjalanan kemitraan, tidak ada penurunan kadar kedua aspek penting ini. Perusahaan harus mengevaluasi dari waktu ke waktu, agar alert untuk memperbaikinya sebelum terjadi degradasi pertemanan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Awal tahun baru merupakan momen yang tepat untuk merenung, apakah brand masih dipersepsikan baik oleh partner, sama baiknya seperti saat partnership dimulai?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ataukah, derajat trust dan respect sudah tererosi dengan keinginan salah satu brand untuk tampil sendiri, dengan motivasi untuk meraup untung lebih banyak dari partner?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tidak ada kata terlambat dalam resolusi janji kepada partner, kepada siapa kita bergantung dan menuai kesuksesan bersama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keep smilin’, keep shinin’</p>
<p>Knowin’ you can always count on me, for sure</p>
<p>For good times and bad times</p>
<p>I’ll be on your side forever more</p>
<p>That’s what friends are for…….</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel diatas dimuat di Harian Seputar indonesia edisi 4 January 2012</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnomark.com/android-inside-belajar-dari-pertemanan-samsung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengumuman Pemenang Lomba Resensi Buku BRANDMATE</title>
		<link>http://etnomark.com/pengumuman-pemenang-lomba-resensi-buku-brandmate/</link>
		<comments>http://etnomark.com/pengumuman-pemenang-lomba-resensi-buku-brandmate/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 07:31:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnomark</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnomark.com/?p=1858</guid>
		<description><![CDATA[Selamat kepada Pemenang Lomba Resensi buku BRANDMATE. &#160; Pemenang voucher menginap 2 malam di Pullman Jakarta Central Park adalah: &#160; Zahron Abdurrauf Judul Resensi: BRANDMATE-SEPERTI BERTEMU SEORANG KAWAN LAMA, LALU BERDISKUSI(SEBUAH RESENSI) http://the-marketeers.com/archives/brandmateseperti-bertemu-seorang-kawan-lama-lalu-berdiskusi-sebuah-resensi.html &#160; Harianus Ikhtiar Zebua Judul Resensi: BRANDMATE: Mengubah Just Friends Menjadi Soulmates http://researchexpert.wordpress.com/2012/04/12/brandmate-mengubah-just-friends-menjadi-soulmates/ &#160; Endy Julisetiawan Judul Resensi: BRANDMATE: sebuah personifikasi dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat kepada Pemenang Lomba Resensi buku BRANDMATE.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pemenang voucher menginap 2 malam di Pullman Jakarta Central Park adalah:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Zahron Abdurrauf</strong></p>
<p>Judul Resensi: BRANDMATE-SEPERTI BERTEMU SEORANG KAWAN LAMA, LALU BERDISKUSI(SEBUAH RESENSI)<span style="text-decoration: underline;"><strong> </strong></span></p>
<p><a href="http://the-marketeers.com/archives/brandmateseperti-bertemu-seorang-kawan-lama-lalu-berdiskusi-sebuah-resensi.html">http://the-marketeers.com/archives/brandmateseperti-bertemu-seorang-kawan-lama-lalu-berdiskusi-sebuah-resensi.html</a><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Harianus Ikhtiar Zebua</strong></p>
<p>Judul Resensi: BRANDMATE: Mengubah Just Friends Menjadi Soulmates</p>
<p><a href="http://researchexpert.wordpress.com/2012/04/12/brandmate-mengubah-just-friends-menjadi-soulmates/">http://researchexpert.wordpress.com/2012/04/12/brandmate-mengubah-just-friends-menjadi-soulmates/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Endy Julisetiawan</h3>
<p>Judul Resensi: BRANDMATE: sebuah personifikasi dari persoalan Brand Management</p>
<p><a href="http://love-ejs.blogspot.com/2012/04/brandmate-sebuah-personifikasi-dari.html">http://love-ejs.blogspot.com/2012/04/brandmate-sebuah-personifikasi-dari.html</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk pemenang hadiah hiburan <strong>voucher belanja Rp. 100.000</strong> akan langsung dihubungi panitia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selanjutnya panitia akan mengubungi semua pemenang mengenai teknis pemberian hadiah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnomark.com/pengumuman-pemenang-lomba-resensi-buku-brandmate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop BRANDMATE</title>
		<link>http://etnomark.com/workshop-brandmate-2/</link>
		<comments>http://etnomark.com/workshop-brandmate-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2012 10:22:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnomark</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnomark.com/?p=1840</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; &#160; BRANDMATE Workshop digelar kemarin, Rabu 11 April 2012 di Cafe Resto Capital Grille Jakarta. Dihadiri oleh praktisi dari berbagai industri dari real estate, farmasi, hypermarket, rumah sakit, digital consulting, bank, cinema, dll, Amalia E. Maulana sebagai penulis buku mengupas konsep BRANDMATE dengan contoh-contoh yang nyata.  Digelar 4 sesi hari ini, termasuk 1 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;<br />
<a rel="attachment wp-att-1841" href="http://etnomark.com/workshop-brandmate-2/brandmate-peserta1/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1841" title="BrandMate-Peserta1" src="http://etnomark.com/wp-content/uploads/BrandMate-Peserta1.jpg" alt="" width="1009" height="535" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>BRANDMATE Workshop digelar kemarin, Rabu 11 April 2012 di Cafe Resto Capital Grille Jakarta.</p>
<p>Dihadiri oleh praktisi dari berbagai industri dari real estate, farmasi, hypermarket, rumah sakit, digital consulting, bank, cinema, dll, Amalia E. Maulana sebagai penulis buku mengupas konsep BRANDMATE dengan contoh-contoh yang nyata.  Digelar 4 sesi hari ini, termasuk 1 sesi exercise dimana peserta workshop diminta mendiskusikan case study dan presentasi hasilnya kepada hadirin. Dalam diskusi case study, aplikasi konsep branding yang sedang dipelajari menjadi lebih jelas dan kongkrit.</p>
<p>Branding is a process. Start it Now!</p>
<p>Selamat menjalankan branding dengan lebih tajam lagi untuk para peserta workshop. Good luck.  Keep in touch dan ditunggu sharing nya seputar implementasi workshop di konteks perusahan masing-masing.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnomark.com/workshop-brandmate-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengubah Teman Menjadi Intim</title>
		<link>http://etnomark.com/mengubah-teman-menjadi-intim/</link>
		<comments>http://etnomark.com/mengubah-teman-menjadi-intim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Apr 2012 09:59:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnomark</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnomark.com/?p=1833</guid>
		<description><![CDATA[Keberhasilan sebuah branding dimulai dengan riset mendalam melalui pendekatan budaya konsumen. Pemilihan Gubernur Jakarta Jakarta masih berbilang bulan. Pemungutan suaranya direncanakan 11 Juli mendatang. Namun perang bakal calon gubernur dan wakilnya sudah dimulai. Para calon Gubernur dan wakilnya sudah tampil di berbagai acara. Semoga citra brand personal bakal calon gubernur dan wakil itu lebih bijak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keberhasilan sebuah branding dimulai dengan riset mendalam melalui pendekatan budaya konsumen.</p>
<p>Pemilihan Gubernur Jakarta Jakarta masih berbilang bulan. Pemungutan suaranya direncanakan 11 Juli mendatang. Namun perang bakal calon gubernur dan wakilnya sudah dimulai. Para calon Gubernur dan wakilnya sudah tampil di berbagai acara.<br />
Semoga citra brand personal bakal calon gubernur dan wakil itu lebih bijak memaparkan kemampuan, kualitas serta integritas dirinya, kata konsultan brand atau merek dan etnografer, Amalia E Maulana.</p>
<p>Sekarang bidang branding, menurut perempuan yang baru saja meluncurkan buku Brandmate; Mengubah Just Friends Menjadi Soulmate , menjadi pembahasan menarik. Tak hanya pada produk dan lembaga, tapi mulai meluas pencitraan personal. Dulu orang tidak terlalu memikirkan soal branding, tapi belakangan ini brand menjadi soal utama, ujar wanita berambut ikal ini.</p>
<p>Menurut Amalia, banyak pihak salah mempersepsikan branding sama dengan marketing communication alias marcom, yang kegiatannya hanya seputar pembuatan logo, slogan, iklan, event, spanduk dan pameran. Dalam sebuah bisnis, branding dibutuhkan agar bisnis berjalan terus dan menghasilkan penjualan yang terus meningkat. Yang terjadi branding lebih dari sekadar kegiatan marcom, katanya.</p>
<p>Secara filosofi, menurut anak seorang dosen ini branding memiliki tujuan sederhana yaitu agar sebuah produk dikenal luas dan mendalam oleh konsumennya. Dia mengingatkan, branding yang berhasil bukan cuma sekadar menjual produk sebanyak-banyaknya ke konsumen, Tetapi lebih dari itu bisa memenangkan hati konsumen dan mengikatnya secara emosional.</p>
<p>Di dalam branding, kegiatan sentral justru dimulai dengan riset mendalam menggunakan pendekatan etnografi atau budaya konsumen. Dengan etnografi bisa mengetahui akar permasalahan yang diperkuat dengan melakukan riset sebelumnya. Sayang banyak perusahaan atau perorangan yang tidak pernah melakukan riset terlebih dulu. Mereka langsung membranding dan berakibat sebuah pemborosan investasi yang tidak mengenai target, kata Amalia.</p>
<p>Memang bukan perkara mudah memenangkan hati konsumen. Penyuka pelajaran matematika, fisika dan kimia saat sekolah ini menggunakan analogi pertemanan mengubah teman biasa menjadi teman sejati. Yang dijelaskan dalam branding, sebuah brand harus mengonversi konsumen biasa (just friend) menjadi konsumen loyal (soulmates). Dengan demikian sebuah brand akan menjadi belahan jiwa atau teman sejati, ujarnya.</p>
<p>Untuk menjadi teman sejati, belahan jiwa atau soulmate, kuncinya sebuah brand harus mengenali dan memahami kebutuhan dan perilaku konsumen. Bila ingin bisa mengenali secara mendalam, ya penelitian atau riset. Dari hasil riset lalu diformulasikan menjadi sebuah strategi dan dikomunikasikan dengan berbagai kegiatan marcom, seperti pembuatan logo, slogan, iklan, event, spanduk, pameran, dan lain-lain.</p>
<p>Sebelum mengomunikasikan ke pihak luar (eksternal branding), perusahaan seharusnya lebih dulu melakukan internal branding agar karyawan dari jajaran atas hingga bawah, memiliki tujuan dan komitmen yang sama terhadap produknya. Kalau sebuah brand sudah menjadi brandmate akan terbentuk loyalitas sejati yang tidak akan lekang oleh waktu.</p>
<p>Pengalaman Ibu tiga putra ini didapat saat riset pada 2005. Ketika proses tesis doktoralnya (S-3) tentang connectedness antara website dengan pengunjungnya. Pada riset tersebut, dia menemukan bahwa kesuksesan sebuah website tidak ditentukan oleh seberapa banyak pengunjung yang datang, tetapi seberapa intens pengunjung masuk dan berinteraksi di dalam halaman website setiap kali berkunjung.</p>
<p>Indonesia, menurut Amalia, sangat berpotensi menjadi negara penghasil produk dan brand-brand besar. Kekayaan alam di agribisnis, sektor industri kreatif, kerajinan dan sebagainya merupakan modal yang luar biasa. Sayang banyak sisi intangible atau yang tidak berwujud dari produk yang belum tergarap dengan baik, katanya.</p>
<p>Merek lokal masih baru di tahap unggul di kandang sendiri belum berjaya di pasar internasional. Untuk memahami pasar yang lebih luas, maka ilmu manajemen brand dan etnografi menjadi pendukung utama yang harus dikuasai dengan baik. Kini, Amalia memiliki klien beberapa perusahaan ternama dan tokoh. Hidup harus mengarah keseimbangan dan berbagi, ujar anak ke tiga dari lima bersaudara yang kesemuanya perempuan. HADRIANI P</p>
<p>Biodata</p>
<p>Nama : Amalia E Maulana</p>
<p>Pendidikan</p>
<p>1985, Lulus Institut Pertanian Bogor (IPB)<br />
1995, Meraih gelar MBA yang diperoleh dari IPMI di Monash Business School Mt.Eliza<br />
2006, Meraih gelar PhD dari School of Marketing, University of New South Wales, Australia dengan tesis doktoral berjudul: &#8216;Revisitation Perilaku dalam Non-transaksi Konteks Situs Web.</p>
<p>Karier<br />
1998 sampai sekarang, Anggota Fakultas di IPMI (Institut Pengembangan Manajemen Indonesia).<br />
2001-2004, Dosen Associate, mengajar Dasar-dasar Pemasaran dan Komunikasi Pemasaran &amp; Promosi di School of Marketing, UNSW, Australia<br />
2006-sekarang, konsultan merek dan etnografer.<br />
2007-2008, Mengajar di program pascasarjana Binus School, IPMI Business School dan LSPR (London School of Public Relations), Jakarta.<br />
2007-2009, Kepala Pemasaran Strategis MM, Sekolah Bisnis Binus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dimuat di Koran Tempo Edisi Rabu 4 April 2012. (Hadriani P)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnomark.com/mengubah-teman-menjadi-intim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PT. Tempo Scan Pacific</title>
		<link>http://etnomark.com/pt-tempo-scan-pacific/</link>
		<comments>http://etnomark.com/pt-tempo-scan-pacific/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Mar 2012 22:11:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnomark</dc:creator>
				<category><![CDATA[Clients]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnomark.com/?p=1745</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnomark.com/pt-tempo-scan-pacific/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop BrandMate</title>
		<link>http://etnomark.com/workshop-brandmate/</link>
		<comments>http://etnomark.com/workshop-brandmate/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2012 10:38:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnomark</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnomark.com/?p=1776</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1777" href="http://etnomark.com/workshop-brandmate/27maret2012oke/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1777" title="Workshop Branmate" src="http://etnomark.com/wp-content/uploads/27maret2012oke.jpg" alt="" width="1024" height="465" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnomark.com/workshop-brandmate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AMALIA E. MAULANA : DOKTER MARKETING</title>
		<link>http://etnomark.com/amalia-e-maulana-dokter-marketing/</link>
		<comments>http://etnomark.com/amalia-e-maulana-dokter-marketing/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2012 09:20:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnomark</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnomark.com/?p=1771</guid>
		<description><![CDATA[Profesi yang ditekuni wanita ini terbilang sangat langka di Indonesia. Ya, sekembalinya dari menempuh pendidikan S3 di bidang marketing , Amalia E Maulana memutuskan diri menjadi brand consultant dan etnografer sekaligus direktur PT  Etnomark Consulting, yang didirikannya. Khusus profesi etnografer ini, dalam konteks antropologi social, orang mengenal istilah etnografi bukan sekedar hal baru. Namun ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Profesi yang ditekuni wanita ini terbilang sangat langka di Indonesia. Ya, sekembalinya dari menempuh pendidikan S3 di bidang marketing , Amalia E Maulana memutuskan diri menjadi brand consultant dan etnografer sekaligus direktur PT  Etnomark Consulting, yang didirikannya.</em></p>
<p>Khusus profesi etnografer ini, dalam konteks antropologi social, orang mengenal istilah etnografi bukan sekedar hal baru. Namun ketika Amalia menghubungkannya dengan marketing , metode ini menjadi suatu yang baru.</p>
<p>“Metode etnografi itu seperti yang dilakukan oleh antropolog. Dimana kalau kami ingin mengetahui suatu permasalahan, kami harus menggali permasalahan. Setelah digali, di identifikasi. Kalau dokter sampai dapat hasil laboratorium. Nanti pada waktu memberikan kira-kira solusinya apa, kami sudah mempunyai keyakinan yang tinggi. Memang masalahnya A, berarti obatnya A, tidak mungkin B. Kalau menduga-duga, bisa jadi perusahaan itu sembuh hanya tiga bulan saja, setelah itu sakit lagi. ” tutur Amalia, menggambarkan alur kerja yang ditekuninya.</p>
<p>Dalam etnografi, kekuatannya adalah berupaya mengungkap yang tidak terungkap. Hal tersebut didapat dari eksplorasi.</p>
<p>Amalia mempunyai analogi puzzle. Puzzle itu kalau disusun dari 100 buah, maka akan menjadi sebuah gambar. Namun gambarnya tidak sebagus dan seterang jika disusun dari 1000 buah. Dari potongan yang banyak itulah, seorang konsultan dapat memetakan permasalahan. Hanya saja, ia menilai proses etnografi sering kali dianggap lama oleh perusahaan yang ingin instan.</p>
<p>“padahal lama itu relative. Mungkin dalam konteks social, etnografi membutuhkan waktu enam bulan. Tapi dalam binis, banayak factor yang perlu diteliti untuk bisa mendapatkan jawaban. Kami objektif. Dalam buku saya yang pertama tentang etnorafi,ada tehnik-tehniknya, ” urai dosen tiga perguruan tinggi swasta ini, yakni; Universitas Bina Nusantara, The London School of Public Relation (LSPR) dan IPMI Bussiness School.</p>
<p><strong>DARI SOULMATE KE JUT FRIEND</strong></p>
<p>Sebagai konsultan branding, ia memang menganalogikan profesinya seperti dokter yang mencari tahu dimana letak sakit atau yang dikeluhkan pasien.</p>
<p>“kalau kita dokter, dalam kondisi sehatpun disuruh cek-up, karena kita tidak pernah tahu. Siapa tahu dalam badan ada kolesterol tinggi, tapi tidak dirasakan. Perusahaan yang merasakan sehat –sehat saja, tetap perlu melakukan audit atau memeriksa brand. Apakah brand-nya betul-betul sempurna sehatnya atau ada hal-hal yang masih perlu dibetulkan. Karena kalau penyakitnya masih ringan, maka obatnya juga tidak mahal. Kalau sakitnya sudah 40 derajat, bisa saja dokter menyarankan untuk opname, akibatnya biaya menjadi mahal,” tutur Amalia.</p>
<p>Terkadang perusahaan melihat penurunan penjualan adalah sebuah penyakit, padahal belum tentu. Menurut Amalia, itu baru indikasi bahwa sedang terjadi sesuatu dalam perusahaan. Tapi, kata Amalia, sesuatu yang tidak beres itu kadang diabaikan, menunggu sampai terjadi komplikasi kemudian panic. “dalam brand konsultan Etnomar, kami menyarankan untuk audit brand. Bukan hanya untuk perusahaan yang sudah merasa sangat sakit, tapi Dallam kondisi yang disangka sehat pun, kami akan melakukan rutin audit. Tujuannya untuk memastikan bahwa memang perusahaan tersebut kesehatannya prima, sehingga timnya pun bergerak dengan senang dan bersemangat tinggi,” lanjut wanita kelahiran tahun 1963 ini.</p>
<p>Dalam bukunya yang berjudul “Brandmate, Mengubah Just Friend menjadi Soulmates”, Amalia dengan lugas menjelaskan persoalan yang dihadapi perusahaan tak ubahnya seperti sebuah pertemanan.</p>
<p>Manakala konsumen berpindah ke lain hati, maka perlu observasi langsung dalam masalah konsumen. Kalau dibilang konsumen tidak mau membeli lagi, kenapa? Kenapanya ini yang diobservasi. “hal itu bisa saja terjadi karena konsumen tidak dipelihara. Seperti dari belahan jiwa, menjadi teman saja. Artinya derajat pertemanan itu menurun. Bagaimana sebuah perusahaan, konsumen bisa meningkat, tapi bisa juga menurun. Ketika menurun, artinya ada masalah. Apa penyebabnya? Kami dari konultan audit brand akan mencari jawabannya.”</p>
<p><strong>CARA-CARA BARU</strong></p>
<p>Amalia menekuni etnografi sejak 2006. Tepatnya sekembalinya dari mengambil gelar Ph. D. di Sidney.</p>
<p>Seperti biasa, di akhir studi Amalia melakukan penelitian. Dari penelitian, Amalia melihat tidak hanya bisa mengandalkan survey karena jawabannya tidak memuaskan. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah kursus studi etnografi di Australia.</p>
<p>“Dosennya memang luar biasa banget. Saya terkesan dan merasakan bahwa sebetulnya banyak sekali yang bisa saya jawab dari penelitian saya ini. Padahal sebelumnya banyak sekali yang saya tidak bisa jawab. Karena pada awalnya saya hanya mengandalkan cara-cara yang permukaan. Bagitu saya masuk dalam penelitian itu, saya melakukan eksplorasi, barulah muncul jawaban. Dari situ saya merasakan etnografi itu akan bisa membantu banyak perusahaan dengan cara-cara baru dalam menggali permasalahan,” ujar Amalia yang selama 12 tahun berkiprah sebagai brand manajer di berbagai perusahaan ternama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PASSION ITU DIBUTUHKAN</strong></p>
<p><em>Diluar kesibukan sebagai dosen dan konsultan, Amalia menikmati hobi menari dan memasak.</em></p>
<p>Satu tahun belakangan ini, wanita berdarah Arab ini aktif belajar menari line dance yang saat ini memang sedang marak dipelajari banyak kalangan, muda hingga tua.</p>
<p>Amalia punya cerita menarik hingga akhirnya berkenalan dengan kegiatan menari tersebut. “Ikut line dance awalnya untuk sosialisasi. Kebetulan kami sekeluarga pindah ke sebuah perumahan baru. Kegiatan itu sekaligus ajang perkenalan dengan tetangga. Line dance itu seperti senam poco-poco, kombonasi olahraga dan fun. Lama saya menyukainya, ” cerita Amalia tersenyum.</p>
<p>Amalia menularkan hobinya itu pada stafnya di kantor. “meneliti itu banyak membutuhkan energy, capek, jadi kami mengimbanginya dengan sesi line dance,” tutur Amalia.</p>
<p>Hobi memasak aneka menu juga menjadi keasikan tersendiri ibu tiga anak ini. Nasi kebuli merupakan masakan andalan Amalia saat menjamu teman-temannya. Selama lima tahun di Sidney, Amalia merasa hobi memasaknya benar-benar tersalurkan dengan baik. Sama seperti pekerjaannya, hobi memasak juga bagian dari passion.</p>
<p>“Passion itu dibutuhkan. Jadi, ketika memasak dalam jumlah berapa pun tidak akan terasa capek. Waktu di Sidney, saya pernah memasak nasi Kebuli untuk 80 orang. Saya kerjakan sendiri sampai jam dua pagi. Saya senang melakukannya. Alhamdulillah teman-teman suka Nasi Kebuli buatan saya. Mereka bertanya, ‘kok, tidak terasa kambingnya ya?’  saya katakana ini adalah resep dari ibu saya,” kenang Amalia.</p>
<p>Untuk menjaga keseimbangan,Amalia memperhatikan sisi sosialnya, memikirkan orang lain di luar lingkarannya, yang membutuhkan uluran tangannya. “Dengan teman-teman di Etnomark, saya setiap bulan ada alokasi waktu untuk berbagi CSR (Coorporate Social Responsibility), kami adakan tukar pikiran dengan kelompok-kelompok yang membutuhkan pencerahan atau masukan. Contoh, ada perusahaan yang pada dasarnya ingin melakukan branding, tapi kalau pakai metode Etnomark, rasanya dari sisi harga tidak cocok. Untuk mereka, kami kami berikan layanan tanpa memungut biaya. Kedepan yang saya utamakan adalah pengusaha=pengusaha UKM,” tutur Amalia, terentum.</p>
<p><strong>Dewi Muchtar &#8211; Tabloid Wanita Indonesia 17-23 Maret 2012 (Cermin)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnomark.com/amalia-e-maulana-dokter-marketing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BRANDMATE</title>
		<link>http://etnomark.com/brandmate/</link>
		<comments>http://etnomark.com/brandmate/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2012 09:18:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnomark</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnomark.com/?p=1769</guid>
		<description><![CDATA[ETNOMARK CONSULTING, 2012 Kalimat sakti “Konsumen adalah raja,” sudah kita akrab sejak lama. Namun tidak semua pemilik merk sukses menjadi konsumennyanya sebagai asset terbaik peusahaan. Padahal, pemilihan strategi branding yang tepat guna – bukan sekedar menghabiskan bajet tinggi- tidak hanya berhasil membentuk loyalitas konumen, tapi sekaligus mengubah konsumen sebagai brand advocator – teman sejati yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>ETNOMARK CONSULTING, 2012</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kalimat sakti “Konsumen adalah raja,” sudah kita akrab sejak lama. Namun tidak semua pemilik merk sukses menjadi konsumennyanya sebagai asset terbaik peusahaan. Padahal, pemilihan strategi branding yang tepat guna – bukan sekedar menghabiskan bajet tinggi- tidak hanya berhasil membentuk loyalitas konumen, tapi sekaligus mengubah konsumen sebagai <em>brand advocator – </em>teman sejati<em> </em>yang akan ‘membela merek’ dalam segala situasi karena ada kedekatan emosional.</p>
<p>Amalia Maulana, pendiri Etnomark Consulting, mengawali persahabatannya dengan studi etnografi melalui perjalanan sebagai praktisi pemasaran dan <em>branding.</em> Tidak heran, pendekatan penulisan melalui kasus di buku ini menjadikan proses branding lebih mudah dicerna awam.</p>
<p>Bagian terakhir memuat tentang <em>i-branding</em>- yang kerap terlupakan oleh para ksekutif muda. Bacaan wajib bagi siapa pun yang sedang berusaha membesarkan merek usaha.</p>
<p><strong>Rahma Wulandari- KICK ANDY MAGAZINE (Reading Room)-Maret 2012</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnomark.com/brandmate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbanyak Teman Sejati untuk Meraih Kesuksesan</title>
		<link>http://etnomark.com/perbanyak-teman-sejati-untuk-meraih-kesuksesan/</link>
		<comments>http://etnomark.com/perbanyak-teman-sejati-untuk-meraih-kesuksesan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2012 09:17:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etnomark</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://etnomark.com/?p=1767</guid>
		<description><![CDATA[APA ARTI TEMAN SEJATI dalam hidup kita? Benarkah setiap orang yang kita kenal adalah teman sejati (soulmates)? Belum tentu. Bagaimana mungkin semua orang kita anggap sebagai teman sejati jika dalam keseharian kita tak pernah punya waktu untuk membina pertemanan? Kebanyakan orang beranggapan bahwa pertemanan bisa mengalir begitu saja. Kita lupa bahwa pertemanan yang sejati perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>APA ARTI TEMAN SEJATI</strong> dalam hidup kita? Benarkah setiap orang yang kita kenal adalah teman sejati (<em>soulmates</em>)? Belum tentu. Bagaimana mungkin semua orang kita anggap sebagai teman sejati jika dalam keseharian kita tak pernah punya waktu untuk membina pertemanan? Kebanyakan orang beranggapan bahwa pertemanan bisa mengalir begitu saja. Kita lupa bahwa pertemanan yang sejati perlu dibangun dan diupayakan. Nah, bagaimana meningkatkan hubungan pertemanan agar teman kita yang semula biasa-biasa saja menjadi teman sejati?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat kita temukan dalam buku yang ditulis oleh konsultan<em>brand</em><em> </em>dan <em>ethnographer</em><em> </em>Amalia E. Maulana: <em>Brandmate, Mengubah Just Friends Menjadi Soulmates</em>. Amalia berpendapat bahwa kesuksesan pertemanan menggambarkan prestasi kehidupan sosial seseorang. Dengan kata lain, keberadaan teman sejati merupakan aset paling berharga dalam kehidupan seseorang. “Hidup kita baru berharga bila punya banyak sahabat, banyak teman baik, jauh di atas teman-teman biasa. Ini yang luput dari pengamatan,” tulis Amalia dalam buku ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih jauh tentang buku ini, kita akan tahu bahwa Amalia menganalogikan <em>branding</em><em> </em>dengan pertemanan. Menurutnya, mengurus <em>brand</em><em> </em>sama peliknya seperti mengurus pertemanan. <em>Brand</em>yang sukses adalah <em>brand</em><em> </em>yang diterima oleh konsumen, diminati dan menjadi teman sejati. Tentu hal ini tidak dapat ditangani secara sembarangan. Untuk mengelola sebuah <em>brand</em><em> </em>agar menjadi teman sejati bagi konsumennya, dibutuhkan seorang manajer <em>brand</em><em> </em>yang andal. Jika tidak, jangan harap <em>brand</em><em> </em>Anda diakui sebagai teman sejati bagi orang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagi Amalia, prestasi <em>brand</em><em> </em>tidak cukup hanya diukur dari seberapa banyak yang kenal dan membeli <em>brand</em><em> </em>tersebut. Kesuksesan meraih konsumen dalam tahap menghitung jumlah pemakai, baru menggambarkan kesuksesan transaksional, bukan relasional. Pada saat transaksi, yang terjadi adalah proses merekrut konsumen menjadi teman biasa saja, atau <em>just friend</em>. Masalahnya, berapa banyak yang akan bertahan untuk membelinya terus-menerus dan tidak berpindah ke <em>brand</em><em> </em>lain?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Itulah yang dibahas lebih lanjut dalam buku yang dikemas dengan gaya penulisan yang renyah dan mudah dipahami ini. Membaca buku ini tidak akan membuat dahi kita berkerut dan kepala jadi pening. Namun demikian, bukan berarti buku ini terkesan ringan. Buku ini tetap memiliki kedalaman analisis dan sarat dengan berbagai contoh kasus. Saya kira, salah satu kelebihan Amalia – yang juga berprofesi sebagai pengajar di beberapa perguruan tinggi ini – adalah kemampuannya menerangkan (sekaligus menuliskan) sesuatu yang sulit, <em>njelimet</em>, menjadi bahasa yang lebih sederhana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Empat Tahapan Branding</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam bahasa yang lebih popular, kita mengenal yang namanya konsumen loyal. Yaitu, konsumen yang terus-menerus menggunakan sebuah <em>brand</em><em> </em>dan tak ingin pindah ke <em>brand</em><em> </em>lain.<em>Framework Customer-Based Brand Equity</em> (CBBE) yang dikemukakan oleh Kevin Keller menerangkan proses terbentuknya pertemanan yang kuat. Konsumen yang loyal layak disebut<em>soulmates</em>. Tak berhenti sampai di situ, Amalia mencoba mengelaborasi konsep ini. Dalam CBBE yang dimaksud adalah bagaimana konsumen menjadi lebih loyal terhadap sebuah <em>brand</em>. Sementara Amalia mempersepsikan <em>brand</em><em> </em>seperti pertemanan sehari-hari, sehingga yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengonversi teman biasa menjadi teman sejati. Dengan cara begini, Amalia ingin mengajak para pemilik <em>brand</em><em> </em>untuk memahami betapa pentingnya mengelola dan mempertahankan eksistensi <em>brand</em><em> </em>di mata konsumen.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam konteks <em>branding</em>, pendiri sekaligus direktur dari ETNOMARK Consulting, konsultan<em>branding</em><em> </em>yang menangani <em>brand audit</em> dan <em>knowledge building</em>, ini berpendapat bahwa <em>brand</em><em> </em>yang kuat telah mendapatkan posisi di mana cita-cita yang dicanangkannya sudah sama seperti yang dipikirkan konsumen terhadapnya. <em>Brand</em><em> </em>yang kuat memiliki banyak teman sejati karena ia dikenal luas, dimengerti maknanya, disukai, selalu dipilih pada tiap kesempatan, dan direkomendasikan kepada konsumen lain. Untuk sampai ke tujuan itu tentu tidak sederhana. “Butuh waktu dan strategi pemasaran yang tepat,” kata Amalia. Lantas, apa yang harus dilakukan pemilik <em>brand</em><em> </em>untuk mencapai cita-cita itu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setidaknya, ada empat tahapan proses yang harus dilakukan pemilik <em>brand</em><em> </em>untuk mengonversi teman biasa menjadi teman sejati. Prosesnya dimulai dengan perkenalan, lalu pemahaman, diikuti dengan saling menyukai, dan berujung pada keterikatan secara emosi. Mari kita bahas empat tahapan ini satu demi satu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Pertama</em>, dalam proses perkenalan, setiap kata, sikap, dan tindakan kita akan dinilai oleh orang lain. Itu semua membentuk sebuah citra diri yang sangat awal dan bersifat permukaan. Memasuki tahap <em>kedua</em>, yang tercipta bukan lagi awareness, melainkan sudah terbentuk pemahaman mengenai siapa kita yang sebenarnya. Proses pemahaman ini bila tidak diantisipasi dengan baik, maka teman-teman baru tersebut bisa memiliki penilaian yang tidak sama dengan siapa diri kita yang sebenarnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di tahap <em>ketiga</em>, dibutuhkan usaha dari kedua pihak untuk saling menyukai. Dari pihak kita, harus melakukan penyesuaian yang baik terhadap kebutuhan teman-teman baru. Tanpa proses penyesuaian ini, kita akan tetap menjadi sosok yang asing satu sama lain. Amalia mengakui, tidak semua orang dalam lingkungan baru itu bisa menjadi teman baik, karena mungkin minat dan pemikirannya berbeda, atau sebagian orang menyebutnya “<em>chemistry</em>-nya tidak cocok”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan, tahap berikutnya adalah keterikatan secara emosi. “Ini adalah tahapan terberat,” Amalia menegaskan. Tahapan ini tidak dapat dilakukan setengah hati. Seorang teman sejati mengerti apa yang disenangi dan tidak disenangi oleh temannya. Dia juga seorang pendengar yang baik, dan selalu ada pada saat dibutuhkan. Tidak menyebarkan berita buruk tentang temannya, bahkan setiap ada kesempatan selalu menceritakan kebaikan-kebaikan temannya. Amalia menyimpulkan, pertemanan sejati didasari beberapa sikap berikut ini: tidak dibuat-buat (otentik), jujur, berempati, senang menolong, selalu berkomunikasi, dan menciptakan hal-hal baru yang menyenangkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Branding Pribadi Sama Pentingnya</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keempat tahapan proses di atas juga dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan pribadi, kita pun perlu membangun <em>brand</em><em> </em>atau dikenal dengan sebutan <em>I-brand</em>. Ini tidak ada hubungannya dengan usia kita saat ini, posisi/jabatan yang kita sandang, maupun kekayaan dan bisnis yang kita miliki. Semua orang, sejatinya perlu menyadari pentingnya membangun <em>I-brand</em>. Dan, komunikasi mengenai siapa diri kita akan melekat bukan hanya dalam kehidupan nyata, tetapi juga menempel saat kita berada di dunia maya. Setiap kata yang kita tulis di media sosial, misalnya, jejaknya akan terekam di sana. Amalia menjelaskan, di media sosial <em>I-brand</em> dapat dianalisa dan dicitrakan. Istilah yang digunakan adalah <em>Cyber Presence</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagaimanapun, media sosial bak pisau bermata dua. Jika kita dapat menggunakannya dengan baik dan bijaksana, maka dapat menjadi alat promosi yang efektif. Namun di sisi lain, jika kita kurang berhati-hati, media sosial merupakan ancaman yang berbahaya. Karena itu, tiap kali akan menulis status di Facebook atau melontarkan ocehan di Twitter, kita perlu memikirkannya secara bijak. Sering kali, karena emosi atau sedang tidak <em>mood</em>, seseorang menuliskan sesuatu yang menyinggung atau memicu kemarahan pihak lain. Misalnya, memposting kata-kata keluhan terhadap pekerjaan di kantor atau meluapkan kekesalan pada orang lain. Kesannya sepele, tetapi sudah banyak contoh, di mana postingan seperti itu kemudian menjadi bumerang bagi penulisnya. Sudah pasti, ini akan merugikan diri sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagaimana kegiatan <em>branding</em><em> </em>pada sebuah produk, keberhasilan <em>I-brand</em> – salah satunya – dapat diukur dari berapa banyak jumlah teman sejati yang dimiliki seseorang. Siapa yang tidak bahagia memiliki banyak teman sejati? Yuk, kita bangun <em>I-brand</em> sekarang juga! Ketahui caranya dengan membaca buku ini. (*)</p>
<p>Firdanianty<strong><em>- <a href="http://www.portalhr.com/publikasi/resensi/perbanyak-teman-sejati-untuk-meraih-kesuksesan/">http://www.portalhr.com/publikasi/resensi/perbanyak-teman-sejati-untuk-meraih-kesuksesan/</a></em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://etnomark.com/perbanyak-teman-sejati-untuk-meraih-kesuksesan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

